Oleh-Oleh Singkat dari RSK (Rumah Sakit Kusta)

Bulan maret lalu saya dan beberapa teman di tugaskan untuk berkunjung ke rumah sakit kusta di salah satu kota dijawa timur. Tugas kami disana ,tentunya, untuk mengenal lebih baik mengenai penyakit kusta. Perjalanan kami menuju rumah sakit tersebut tidak terlalu menyenangkan karena travel yang kami tumpangi berjalan ugal-ugalan, alhasil salah seorang dari kami mabuk darat…

Sampai di rumah sakit kusta (RSK) kami disambut satpam penjaga rumah sakit. Setelah beristirahat sebentar kami keluar untuk membeli makan malam.

Hari pertama kami di RSK sangat melelahkan. Seharian kami berkeliling rumah sakit diperkenalkan pada petugas-petugas RSK sehingga kami belum sempat bertemu dengan pasien-pasien kusta secara langsung. Baru pada hari ketiga kami dapat bertemu dan sedikit ngobrol-ngobrol dengan penderita kusta.

Rata-rata pasien di RSK sudah tinggal belasan bahkan puluhan tahun. Kebanyakan mereka merasa lebih nyaman berada di RSK dari pada di rumahnya sendiri dengan alasan bermacam-macam. Alasan terbanyak yang menyebabkan mereka enggan pulang ke rumah adalah karena mereka sudah tidak diterima lagi dilingkungan tempat mereka tinggal. Bahkan tidak jarang yang tidak diterima oleh keluarganya sendiri. Salah seorang diantara mereka bahkan pernah mencoba bunuh diri hingga 2 kali karena merasa putus asa terhadap penyakit yang diderita dan tidak tahan terhadap hinaan keluarga maupun tetangga. Yang lain hanya menunjukkan mata yang berkaca-kaca setiap kali ditanyakan anggota keluarganya. Yang lain lagi sampai menderita sakit jiwa, beruntung ibunya masih setia menjaga pasien tersebut, tapi dimana ayahnya?? ayahnya pergi meninggalkan anak yang sakit kusta dan ditambah sakit jiwa tersebut. Ada yang sampai akhir hayatnya berada di RSK. Bagi mereka RSK adalah rumah dan keluarga.

Mereka menjadi lebih sensitif dibandingkan orang lain. Tidak disapa oleh tetangga saja dapat menyebabkan reaksi tubuh yang pada akhirnya dapat menyebabkan kecacatan yang lebih parah.

Penyakit kusta memang terlihat begitu ’menyeramkan’ di mata sebagian orang. Saya pun pernah beranggapan demikian. Hal ini mungkin disebabkan kusta merupakan peyakit yang membuat penderitanya cacat dan dianggap sebagai penyakit kutukan, najis bahkan ada yang mengatakan sebagai sakit keturunan. Namun tidak begitu adanya.

Kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Cara penularannya adalah melalui droplet (udara) namun penularan penyakit ini tidak semudah seperti penularan penyakit lainnya. Dari 100 orang yang menghirup kuman melalui udara, 95 orang tidak akan terinfeksi. Dari 5 orang yang terinfeksi hanya 50% yang menjadi sakit dan sisanya akna sembuh sendiri. Jika daya tahan tubuh baik maka tubuh kita akan membasmi kuman-kuman kusta yang masuk kedalam tubuh. Jadi kenapa pasien kusta harus dikucilkan ???

Harapan mereka tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin sembuh agar dapat diterima kembali oleh keluarga.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah:155-157)

“Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih

hingga kekhawatiran yang mengusiknya,

melainkan Allah mengampuni

kesalahan-kesalahannya”.

(HR. Bukhori&Muslim)

 

 

10 Balasan ke Oleh-Oleh Singkat dari RSK (Rumah Sakit Kusta)

  1. Netsa mengatakan:

    ummu ana dah kirim email ke alamat yahoo co id mu…
    baca ya,,,

  2. umi shofy mengatakan:

    assalamuálaikum. umi salma ini sebagai apa kunjungan ke RSK? Terus ada ndk pasien yang sembuh dan bagaimana pengobatannya , dengan cara apa?

    Wa’alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh. Sebagai kewajiban yg harus dipenuhi Dokter muda. Ada yg sembuh walaupun kebanyakan sudah cacat karena organ tubuhnya sudah rusak. Bisa sembuh dengan diterapi rutin semenjak awal mula kemunculan penyakit ini.

  3. M. Bajang Ahmadi mengatakan:

    Assalamualaikum Wr Wb
    Bener sekali Ummu, pengalaman saya ketika masih mendapingi pasien di RSK (Rumah Sakit Kusta) Tugurejo Semarang selama 1 tahun, Kebanyakan mereka enggan pulang, malah ada pasien yang hampir sembuh sengaja lukanya di gosok lagi biar bisa tinggal di RS tersebut, hal ini karena selama ini mereka (pasien) banyak yang dikucilkan di keluarganya bahkan di tetangganya, kondisi yang berlarus menyebabkan mereka ada yang patah semangat, bahkan bagi mereka yang memendam kepahitan hidup yang dideritanya malah menjadi “Psicomatis” gejala kejiwaan yang berdampak pada gejala fisik” akibatnya mereka semakin lama sembuhnya,
    Aku pikir karena selama ini kurang adanya sosialisasi tentang penyakit KUSTA / LEPRA sehingga ketika seseorang mendengar penyakit tersebut enggan untuk tegur sapa,
    Saya sebenarnya menjadi BINROH (Bimbingan Rohani Islam) hanya karena keprihatinan semata karena mereka yang kusta tidak ada yang memperhatihan, sehingga terketuk hatiku untuk memberikan sumbang saran kepada mereka secara sukarela, alhamdulillah walaupun selama 1 tahun bersama mereka saya sehat-sehat saja sampai sekarang; karena virus kusta tersebut konon berkembang setelah 4 5 tahun kemudian, asalkan ” (1)Berdoa kepada Allah SWT dengan penuh keihlasan untuk membantu merinhgankan beban sosial mereka, (2).Sebaiknya setelah salaman atau bertemu pasien cuci tangan yang bersih, (3). jika pagi hari setelah bertemu pasien berjemur di sinar matahari (jam 09.00-10.00) barang 5-10 menit, (4). jauhkah diri dari terkena lendir secara langsung (ludah, ilu dll), (5). Masuk ruangan dalam kondisi tubuh sehat, jika kondisi kita terasa stamina menurun sebaiknya urungkan bertemu pasien. dll
    Namun sekarang karena berada di pulau seberang yang cukup jauh kegiatan tersebut aku serahkan sama kawan dan semoga ada kawan yang lain mau berbagi kepada pasien kusta karena mereka butuh kawan sebagai MODAL SOSIAL
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Pengirim
    Bajang

  4. isma mengatakan:

    ass. ummu saya lagi nyusun skripai tentang kejiwaan pasien kusta, saya lagi butuh banget info mngenai pengaruh cacat akibat kusta terhadap kejiwaan khususnya untuk konsep diri pasien (citra diri, harga diri, ideal diri, dan peran). saya butuh banget innfo tsb. tolong ya ummu….. was….

  5. lut mengatakan:

    tolong di balas ya..

  6. lut mengatakan:

    obat-obatan penunjang lainnya?
    rempah-rempah atau obat-obatan tradisional lainnya?

  7. lut mengatakan:

    ass. maaf jika mengulang2! dari tadi gagal terus.
    saya penderita kusta PB, saya ko malah heran, setelah konsumsi obat dari dokter (obat WHO label merah), saya malah tambah kelihatan seperti orang sakit parah& aneh! (warna kulit memerah-kehitaman, kulit kering berkerak!). perubahan itu terjadi secara drastis! akhirny saya berkesimpulan bahwa obat tersebut telah merubah saya dari orang yang sakit menjadi orang yang sangat sakit!!
    bayangkan apabila hal tersebut berlangsung 1tahun lebih???!!
    termarginalkan!!
    apa dunia medis sampai saat ini tidak bisa membeikan obat yang lebih baik dan lebih tepat??!
    sebab, kondisi tesebut malah akan membuat orang-orang di sekitar penderita KUsta mengucilkan mereka.
    Wass.

  8. wahyu mengatakan:

    ass.kasus iut sama dengan yg dialami adik sya.tapi mungkin terlambat untuk menghentikan obatnya…hingga adik saya di panggil Allah SWT.sekarang ada 1 adik saya yang diduga terkena.apakah kami keluarganya harus mngulang seperti kejadian adik saya tsb.saya mohon ada yg memberikan info yang sebenarnya .untuk iut sekarang gimana kondisinya setelah memutuskan untuk tidak mengkonsumsi obat dari WHO tsb?tlg dibalas ya ummu

  9. Indira mengatakan:

    HI, saya saat ini sementara ikut pelatihan penyakit Kusta di Dinkes SULUT. Untu Wahyu dan Iut, kemungkinan besar “bertambah parahnya” penyakit kusta yang diderita disebabkan oleh reaksi kusta, yaitu reaksi tubuh sendiri terhadap kuman-kuman kusta yang telah hancur (fragmented). Biasanya reaksi kusta terjadi pada pasien dengan pemeriksaan laboratorium (BTA) yang positif, artinya ada kuman penyebab kustanya. Setelah diberikan obat kusta, kuman-kuman ini akan hancur kemudian protein dari kuman akan dikenali oleh tubuh sebagai protein asing dan memicu reaksi kekebalan tubuh. Salah satu efeknya adalah pelepasan zat-zat kimia untuk reaksi radang sehingga timbul kemerahan hebat pada bercak di kulit, demam, timbul benjolan-benjolan kecil. Ini memang salah satu masalah dalam penanganan penyakit kusta yang cukup menyulitkan. Jadi bukan salah obat atau diagnosisnya, tapi reaksi tubuh terhadap kuman yang hancur. Mudah-mudahan info ini bisa membantu. GBU all.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: